Indonesia adalah negara yang kaya akan adat dan budaya.Nah sering kali kita dengar adanya pelaksanaan upacara adat disuatu daerah untuk memperingati hari-hari atau event-event tertentu.Tidak sedikit dalam upacara tersebut sarat syah dan abdol suatu upacara adat adalah adanya sesajen atau sesaji yang harus selalu disiapakn.Maka dari itu saya akan membahas sedikit tentang hukum dan kontrovesi didalamnya:

sesaji atau sesajen merupakan suatu perangkat yang biasanya ada di dalam berbagai kegiatan ritual. Perangkat itu haruslah lengkap, dan setiap perangkat mewakili suatu makna tertentu. Kelengkapan dari sesajen menjadi prasyarat dari keputasan pihak yang disesajeni, dan di sisi lain merupakan wujud kepercayaan dari pihak yang memberi sesaji.
sesaji bunga dengan cipratan darah binatang
ilustrasi : sesaji bunga dengan cipratan darah binatang
Bagi beberapa kelompok masyarakat, sesajen merupakan simbol dari pengakuan akan adanya kuasa yang harus dia puaskan supaya memberi keamanan dan ketenangan di dalam hidup mereka, dan yang akan mejawab semua permohonan mereka. Seberapa lengkap dan sempurna sesajen yang telah diuasahkan dan dipersembahkan merupakansumber ketenangan dan keamanannya.
Meskipun kita cenderung mendefinisikan kebudayaan kita saat ini sebagai kebudayaan yang rasional, tetapi sebenarnya manusia dan kebudayaannya telah menjadi setumpuk perangkat sesajen yang sedang diabdikan kepada sesuatu yang tidak semesinya. Bahkan secara subtil dan laten mungkin kehidupan rohani kita pun sedang dikamiri oleh budaya seperti ini.
***
Ada beberapa hal yang membuat suatu sesajen dapat diterima, yaitu : 1) Sesajen harus lengkap. Tanpa ada kelengkapan maka tidak mungkin hal yang dimohonkan tersebut dapat dijawab. 2) Sesajen harus yang terbaik. Jikalau ada cacat dan cela di dalam sesajen tersebut maka tidak munkin hal yang dimohonkan tersebut dapat diterima. 3) Semakin indah sesajen maka semakin diterima. 4) Semakin besar dan malah akan semakin baik. 5) Semakin aneh sesajen maka semakin kritikal untuk harus dituruti, misalnya mencari ayam jantan hitam mulus tanpa cacat dengan jenis tertentu. 6) Sesajen harus disajikan secara urut dan tepat baik secara waktu dan posisinya.
Orang berlomba membuat sesajen.
Dalam budaya sesajen yang demikian, keberhasilan dientukan oleh kesempurnaan orang dalam menyiapkan sesajen tersebut. Ketika keberhasilan didapatkan makan akan terjadi penguatan di dalam keyakinannya akan pentingnya sesajen tersebut di dalam usahanya.
Ketika keberhasilan sesajen itu teruji, maka hal itu akan menjadi sebuah model sesajen yang berhasil. Semua orang akan menirunya, tepat 100% akan diikuti. Bahkan sesajen itu akan ditambah-tambahi sehingga semaki nlengkap, semakin sempurna, semakin indah, semakin besar dan tentunya juga semakin aneh dengan harapan bahwa akan didapatkan keberhasilan yang semakin besar.
Apa yang tampak di dalam kebudayaan sesajen yang kasat mata tersebut sebenarnya lahir dari suatu sistem nilai tertentu, yaitu bahwa “kita akan diberkati jikalau sesajen kita sempurna”.
Dan secara kasat mata, sesajen itu memuaskan keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup kita. Bukanlah suatu kehormatan jikalau bisa membuat suatu sesajen yang menjadi master piece dibandingkan yang lainnya. Sepertinya naluri kepongahan secara otomatis muncul dibalik pencapaian tersebut. Dua tanduk secara otomatis muncul dibalik pencapaian tersebut, “Ini lo buah keberhasilan yang aku buat.” Kesombongan diri muncul dari diri kita. Keindahan sesajen itu menyembunyikan kebobrokan hatinya.
Sebaliknya setiap kegagalan akan mendapatkan kambing hitamnya. Dan kambing hitu tersebut adalah kekurangsempurnaan sesajen yang dipersembahkan. Mungkin karena kurang lengkap, kurang sempurna, kurang indah, kurang besar, kurang pas atau bahkan kurang aneh. Kambing hitam itu adalah hal-hal yang membuat kekuranglengkapan sesajen tersebut, bisa jadi karena dirinya sendiri atau orang lain.
Jikalau diri sendiri yang menjadi kambing hitam, maka dia akan semakin terbebani oleh kegagalan tersebut, dan hal itu akan semakin menghukum dirinya, karena dipaksa untuk membuktikan sesuatu yang diluar kendali dirinya. Suatu beban yang sebenarnya tidak dapat dia tanggung. Tetapi jikalau orang lain yang menjadi kambing hitam, maka akan muncul banyak alasan untuk menghakimi dan bahkan percideraan serta menyalahkan orang lain sebagai biang kegagalannya. Benih-benih perseteruan mulai ditabur.
Tidak kemerdekaan tetapi justru belenggu.
***
Kita tumbuh di dalam lingkungan yang sangat dekat dengan hal-hal tersebut. Di waktu, kejadian, acara atau ikhtia tertentu, sesjen merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Ada suatu idea tersembunyi yang melatar belakangi kegiatan itu, bahwa “yang berkuasa” dapat dipuaskan dan akan memberi keberhasilan kepada segala usaha kita melalui sesajen tersebut.
Dosa yang paling nyata adalah bahwa kita sering merasa bahwa Allah dapat dipuaskan (baca : disuap) dengan segala sesajen yang kita berikan kepada Nya. Kita ingin membuat ini dan itu, atau ingin melakukan pekerjaan besar ini dan itu yang sepertinya untuk Tuhan tetapi sebenarnya sedang mengingkari kemuliaan Nya.
Dan sesajen itu bisa jadi adalah ritual ibadah kita; doa sembahyang kita, puasa kita, ikhtiar kita, budaya relijius kita, apa yang kita sangka sebagai wujud keimanan kita, atau nilai-nilai yang kita hidupi; yang sepertinya berakar bukan dari kerendahan dan kehancuran hati untuk datang kepada Allah tetapi justru lebih didasarkan ritual sesajen yang kita hidupi, sehingga hal itu menjadi berhala yang tersembunyi di dalam hidup kita. Damai sejahtera kita bukan karena Allah, tetapi karena kinerja sesajen kita. Legalisme dengan mudah menjerat hidup kita.
Di dalam Kristus ada paradigm baru yang ditawarkan, persembahan sejati kita adalah bukanlah sesuatu diluar diri kita, tetapi adalah berasal dari hidup kita yang kita persembahkan sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Nya. Itu adalah ibadah kita yang sejati. Dan hidup di dalam Kristus adalah hidup dari Dia oleh Dia dan bagi Dia. Karena Allah yang bekerja di dalam hidup kita, bukan sebaliknya, kita bekerja bagi Allah.
Justru kita dimampukan menghadap hadirat Nya yang penuh anugrah ketika tidak ada sesajen lain yang dapat kita persembahkan kepada Allah, kecuali diri kita. Segala kemuliaan hanya bagi Allah, yang anugrah Nya cukup atas segala ketidaklayakan kita.

Refferensi:http://agama.kompasiana.com/2010/08/29/sesajen/

2 komentar:

Budaya sesajen merupakan budaya memberikan persembahan kepada Hyang Maha Kuasa dan Esa. Seperti kita ketahui sebelum Agama lahir/disebarkan di dunia, setiap bangsa sudah mempercayai adanya Hyang Maha Kuasa yakni yang menciptakan dunia dan semesta alam, namuan karena keterbatasan pengetahuan, maka semua yang manusia tidak mampu membuatnya, dianggap ada makhluk gaib yang diserahi untuk manjaga ciptaan yang tidak dapat manusia buat. Manusia dapat membuat perahu, tetapi manusia tidak dapat menciptakan tumbuhan sebagai bahan pembuat perahu, maka manusia menganggap bahwa tumbuhan bahan pembuat perahu pasti ada yang menjaganya, karenanya untuk menebang kayu harus izin kepada penjaga tumbuhan dengan berbagai sesaji yang mereka tentukan sediri bentuk sesajinya serta ritual persembahannya. Hal ini sesungguhnya mereka tujukan kepad pencipta tumbuhan tersebut (Hyang Maha Kuasa) melalui penjaga tumbuhan tersebut. Mereka senantiasa menghargai semua makhluk ciptaan Tuhan (apapun bentuknya) karena mereka merasa tidak dapat membuat. Banyak hal bukan hanya menebang kayu, mebngambil pasir di sungai, menanam pohon, menjelang panen dsb, diawali dengan ritual sesaji. Pertanyaan salahkah mereka? Jawabannya TIDAK, karena mereka belum mengenal agama.

Budaya sesajen merupakan budaya memberikan persembahan kepada Hyang Maha Kuasa dan Esa. Seperti kita ketahui sebelum Agama lahir/disebarkan di dunia, setiap bangsa sudah mempercayai adanya Hyang Maha Kuasa yakni yang menciptakan dunia dan semesta alam, namuan karena keterbatasan pengetahuan, maka semua yang manusia tidak mampu membuatnya, dianggap ada makhluk gaib yang diserahi untuk manjaga ciptaan yang tidak dapat manusia buat. Manusia dapat membuat perahu, tetapi manusia tidak dapat menciptakan tumbuhan sebagai bahan pembuat perahu, maka manusia menganggap bahwa tumbuhan bahan pembuat perahu pasti ada yang menjaganya, karenanya untuk menebang kayu harus izin kepada penjaga tumbuhan dengan berbagai sesaji yang mereka tentukan sediri bentuk sesajinya serta ritual persembahannya. Hal ini sesungguhnya mereka tujukan kepad pencipta tumbuhan tersebut (Hyang Maha Kuasa) melalui penjaga tumbuhan tersebut. Mereka senantiasa menghargai semua makhluk ciptaan Tuhan (apapun bentuknya) karena mereka merasa tidak dapat membuat. Banyak hal bukan hanya menebang kayu, mebngambil pasir di sungai, menanam pohon, menjelang panen dsb, diawali dengan ritual sesaji. Pertanyaan salahkah mereka? Jawabannya TIDAK, karena mereka belum mengenal agama.

Posting Komentar