Penduduk Indonesia terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Sebagai bangsa yang besar, Indonesia memiliki keanekaragaman budaya yang menjadi identitas dari bangsa Indonesia, sehingga diperlukan pemahaman atas Wawasan Nusantara sebagai nilai dasar Ketahanan Nasional serta sebagai pemersatu keragaman budaya bangsa.

Budaya secara harfiah berasal dari Bahasa Latin yaitu Colere yang memiliki arti mengerjakan tanah, mengolah, memelihara ladang (menurut Soerjanto Poespowardojo 1993). Selain itu Budaya atau kebudayaan berasal daribahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Adapun menurut istilah Kebudayaan merupakan suatu yang agung dan mahal, tentu saja karena ia tercipta dari hasil rasa, karya, karsa,dan cipta manusia yang kesemuanya merupakan sifat yang hanya ada pada manusia.Tak ada mahluk lain yang memiliki anugrah itu sehingga ia merupakan sesuatu yang agung dan mahal. Berikut ini definisi-definisi kebudayaan yang dikemukakan beberapa ahli:
1. Edward B. Taylor
Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adapt istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat.

2. M. Jacobs dan B.J. Stern
Kebudayaan mencakup keseluruhan yang meliputi bentuk teknologi sosial, ideologi, religi, dan kesenian serta benda, yang kesemuanya merupakan warisan sosial.

3. Koentjaraningrat
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

4. Ki Hajar Dewantara
Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.

Mengapa kebudayaan dapat menjadi alat pemersatu bangsa?
Seperti yang diutarakan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik,budaya bisa menjadi alat pemersatu bangsa, karena melalui kebudayaan antarwarga masyarakat akan semakin akrab. “Untuk itu, setiap daerah perlu memperbanyak karnaval budaya, karena kegiatan tersebut dapat memperkokoh persatuan bangsa,” katanya pada pelepasan karnaval.

Ketika kita menyaksikan budaya-budaya bangsa Indonesia diklaim sebagai budaya yang berasal dari bangsa lain, contohnya reog ponorogo, dan lagu rasa sayange yang dikalim oleh Malaysia. Rakyat Indonesia dengan keras memprotes hal tersebut, entah karna memiliki sikap dan jiwa nasionalisme atau sekedar ikut-ikutan karena suasana, akan tetapi segenap bangsa Indonesia bersama-sama bersatu untuk mengutuk bangsa tersebut sebagai pencuri budaya Nusantara. 

Apakah warga Indonesia mempunyai jiwa nasionalisme hanya pada saat budaya nya diklaim? Akan tetapi dari segi positif nya, dengan ada nya masalah kebudayaan tersebut warga Indonesia dapat bersatu. Maka hal ini dapat dikatakan sebagai alat pemersatu bangsa.

Seni dalam jenis dan sifatnya adalah tidak dapat dipisahkan dari lingkungan hidup. Seni berkaitan dengan konsepsi ruang, waktu dan keadaan. Maka seni selalu memunculkan nilai - nilai atau konsepsi - konsepsi yang ada dalam lingkungan dimana ia berada. Diseluruh Indonesia terdapat ratusan nilai atau konsepsi semacam ini. Di Jawa ada beberapa jenis nilai seperti tersebut diatas yang sering diangkat sebagai tema karya seni
Perlombaan juga dapat menjadi alat pemersatu, karena jiwa nasionalisme akan keluar saat perlombaan berlangsung. Contohnya, saat perlombaan internasional tari pada tanggal 4 desember 2009 di Weihnachtsfeier, Holland. Dalam event ini mereka seakan berlomba untuk menjadi yang terbaik dalam menampilkan kreasi seni dan budayanya masing-masing. Selain pertunjukan seni budaya, acara ini dimeriahkan juga dengan sajian makanan-makanan khas dari berbagai negara.


Globalisasi juga menjadi kenyataan yang tak terelakan. Dalam konteks percaturan budaya global, kesadaran untuk mempertanyakan isentitas justru semakin besar. Globalisasi telah menjadi kenyataan yang tak terelakan. Dalam konteks percaturan budaya global, kesadaran untuk mempertanyakan isentitas justru semakin besar.

Kemampuan dan kesadaran semacam itu hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki kapasitas knowledgeable artist, seorang seniman yang memiliki kemampuan dan pengetahuan luas. Seorang seniman yang terus memelihara daya kreasi dan semangat inovasi, serta membuka diri terhadap berbagai kemungkinan. Siapapun yang ingin memberikan kontribusi yang berarti bagi kesenian, bagi kehidupan, dan bagi kemanusiaan secara luas, tak ada pilihan lain kecuali menumbuhkan kesadaran bahwa pergaulan global adalah sebuah keniscayaan.

Kemudian setelah itu harus memiliki komitmen dan integritas yang dapat dipertanggungjawabkan. Akulturasi budaya yang seharusnya dijaga oleh pemerintah dan masyarakat bangsa ini dalam usaha untuk melestarikan budayanya agar selain tujuannya sebagai instrumen persatuan dan kesatuan bangsa, tentunya juga dapat menjadikan ini sebagai sarana untuk mempromosikan budaya kita di dunia internasional sehingga isu-isu klaim mengklaim yang mengaku pemilik budaya antar bangsa dapat segera diatasi dengan baik (misalnya terkait penguatan intrumen yuridis mengenai hak paten budaya kita).
 
sumber:http://gondichelsky.blogspot.com/2011/02/kebudayaan-sebagai-alat-pemersatu.html

KAIN LURIK, KEKAYAAN BUDAYA INDONESIA Oleh: Nur Iswantara
Kain lurik merupakan salah satu kekayaan budaya kain tenun yang dimiliki Negara Indonesia. Kain lurik tradisional ini berkembang di Pulau Jawa khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Menurut sejarahnya kain lurik telah ada di Pulau Jawa sejak zaman Kerajaan Mataram, hal ini dibuktikan dengan ditemukannya beberapa prasasti yang menggambarkan hal tersebut.
Dari motif lorek jadilah kain lurik.
Mengapa kain tenun dengan motif garis tersebut dinamakan kain lurik? Awal mulanya dalam bahasa Jawa kuno lorek memiliki arti lajur atau garis, belang dan dapat juga diartikan sebagai corak. Maka tak heran lagi jika di Pulau Jawa kain tenun bermotif tersebut dikenal dengan nama kain lurik. Kain lurik sendiri memiliki tiga sebutan nama sesuai dengan motif yang berbeda, seperti sebutan lajuran untuk motif garis-garis yang searah dengan panjang sehelai kain. Ada lagi sebutan pakan malang untuk motif garis- garis yang searah lebar kain, serta ada pula sebutan cacahan untuk motif kecil-kecil.
Pada jaman dahulu, kain lurik ditenun menggunakan benang katun yang dipintal dengan tangan dan ditenun menjadi selembar kain dengan alat yang disebut Gedog, alat ini menghasilkan kain dengan lebar 60cm saja. Seiring dengan perkembangan jaman, kain lurik mulai diproduksi menggunakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) yang lebih modern dan dapat menghasilkan kain dengan lebar 150cm. Proses pemintalan kain katun sudah dilakukan secara modern, yaitu menggunakan mesin. Salah satu inti yang membuat sebuah kain disebut sebagai kain lurik adalah penggunaan benang katun, sehingga menghasilkan tekstur yang khas pada kain ini. Sehingga sebuah kain bermotif lurik yang dipintal dari benang polyester, tidak dapat disebut sebagai kain lurik, karena teksturnya yang berbeda dengan kain lurik yang terbuat dari katun.
Sejarah kain Lurik
Berbagai penemuan sejarah menunjukan bahwa kain tenun lurik telah ada di Pulau Jawa sejak dahulu kala. Ini terbukti pada Prasasti peninggalan kerajaan Mataram (851-882 M) yang menunjukkan adanya kain lurik pakan malang. Prasasti Raja Erlangga Jawa Timur tahun 1033 M menyebutkan bahwa kain tuluh watu adalah salah satu nama kain lurik. Dan juga pemakaian selendang pada arca terracotta asal Trowulan di Jawa Timur dari abad 15 M menunjukkan penggunaan kain lurik pada masa itu. Adanya tenun di pulau Jawa diperkuat dengan pemakaian tenun pada arca-arca dan relief candi yang tersebar di pulau Jawa.
Lurik sebagaimana kita ketahui adalah kain tenun tradisional Jawa khususnya Jogja dan Solo. Lurik merupakan peninggalan sejarah yang sangat kuno. Kain tradisional ini, dibuat dengan melewati beberapa tahapan yang rumit dan mebutuhkan ketelitian dan kesabaran dalam membuatnya.
Proses pembuatan kain lurik
Pertama, pencelupan warna.
Buat kain lurik tidak seperti membuat kain batik yang menggunakan cara “menggambar” pada selembar kain yang sudah jadi. Kain lurik dibuat dengan menenun benang menjadi selembar kain. dengan motif yang dirancang sejak dari pencelupan warna benang sesuai dengan yang diinginkan.
Kedua, Kelos dan palet ( memintal ).
Untuk memudahkan dalam menata benang, setelah dicelup, benang dijemur hingga kering. setelahnya, benang dipintal dalam gulungan-gulungan kecil yang disebut kelos atau palet.
Ketiga, Sekir (menata benang menjadi motif)
Proses ini adalah proses paling rumit, karena seorang penyekir harus menata benang-benang tipis sejumlah 2100 helai benang untuk menghasilkan satu motif tertentu kain lurik selebar 70 cm. tiap-tiap motif memiliki rumus yang berbeda. padahal motif kain lurik sendiri berjumlah puluhan. baik motif klasik maupun motif kontemporer.
Keempat, Nyucuk (memindahkan desain motif ke alat tenun)
Setelah motif dasar ditata di alat sekir, makan kemudian dipindahkan ke alat tenunan. kembali ke-2100 helai benang tadi ditata, dimasukkan satu persatu ke alat serupa sisir di alat tenun. Pada bagian ini, harus dilakukan oleh dua orang, yang satu memilah benang satu persatu dan menyerahkannya kepada partnernya, sedangkan partner satunya menerima dan memasangkan pada alat tenunnya.
Kelima, menenun
Setelah empat proses yang mendahuluinya, akhirnya benang-benang itu siap untuk ditenun. dan tentunya dengan menggunakan alat tenun manual atau yang dikenal dengan ATBM, Alat Tenun Bukan Mesin. Dan akhirnya, kain-kain lurik indah penuh maknapun siap digunakan.
Produsen, makna kain lurik
Daerah produsen kain lurik yang terkenal yaitu di kota Yogyakarta, Klaten, Solo, Jepara, dan Tuban. Untuk daerah Yogyakarta dan Solo, kain lurik dibuat dengan teknik amanan wareg yaitu anyaman datar atau polos. Walaupun sederhana, namun membutuhkan ketrampilan dan kejelian dalam memadukan warna dan menyusun garis atau kotak yang serasi dan seimbang. Pembuatan kain lurik kini telah mengalami kemajuan, dari mulai menggunakan atat tenun tradisional yang biasa disebut tenun gedog, kemudian ATBM ( alat tenun bukan mesin ), hingga kini telah maju menggunakan ATM ( alat tenun mesin ).
Pada awalnya, kain lurik hanya dibuat dalam dua warna saja, yaitu hitam dan putih dengan corak garis atau kotak, namun kini banyak terdapat kain lurik dengan beragam warna, seperti biru, merah, kuning, coklat dan hijau. Yang membedakan tiap motif adalah susunan warnanya, misalnya 3 warna merah, 4 warna biru dengan bahan dasar hitam. Masing-masing komposisi warna dan garis pada kain lurik memiliki makna tertentu. Seperti kain lurik gedog madu, yang digunakan pada upacara mitoni atau siraman; kemudian ada lagi kain lurik motif lasem yang digunakan untuk perlengkapan pengantin pada jaman dahulu.
perkembangan kain lurik
Kain lurik yang dulunya dari kalangan masyarakat biasa, kini telah mampu diakui dan dihargai oleh banyak pihak. Misalkan Keraton Kasultanan Yogyakarta menjadikan kain lurik sebagai busana prajurit keraton. Kelompok usaha bersama abdi dalem Keraton di Kota Gede pun menggalakkan usaha kecil pembuatan pakaian tradisional dari kain lurik. Mereka memanfaatkan motif kain lurik tradisional yang didominasi warna hitam, cokelat, dan putih. Menurut salah satu anggotanya, Budi Raharjo, setiap orang bisa menyelesaikan dua pakaian lurik per hari yang dijual Rp 120.000 per potong.
Saat ini kain lurik tidak hanya dijadikan sebagai busana prajurit keraton saja, tetapi telah banyak dijadikan sebagai bahan surjan, kemeja baik pria maupun wanita, kebaya wanita, pakaian anak-anak, serta selendang ataupun syal. Di Yogyakarta, kain lurik dimodifikasi menjadi beragam produk, seperti pakaian dan aksesori: gantungan kunci, dompet, tas, pakaian, hingga bed cover, semakin digemari masyarakat. Kekhasan corak kain lurik tradisional dan proses pembuatannya yang masih menggunakan tangan menyebabkan nilai jual produk turunan kain lurik tinggi. Tak hanya pasar dalam negeri, kain lurik pun mulai merambah pangsa luar negeri.
Penggunaan kain lurik tidak terbatas untuk pemakaian sehari-hari seperti pakaian dan kain gendong namun juga digunakan untuk perlengkapan interior. Yang menyenangkan dari kain lurik adalah, meskipun ketika masih baru teksturnya sangat kasar dan kaku, namun ketika telah digunakan beberapa lama, teksturnya berubah menjadi lebih lembut tapi tidak berkurang kekuatannya.
Seiring perkembangan dunia fashion di Indonesia, potensi keindahan kain lurik dapat ditampilkan dengan gaya modern tanpa menghilangkan kesan klasik, etnik dan tradisi yang terkandung dalam kain tersebut. Dengan memadukan kain lurik dengan bahan modern, kini banyak perancang busana yang telah sukses menghantarkan kain lurik menjadi busana yang nyaman digunakan oleh para selebritis, pejabat negara. Kini kain tradisional pun tidak memiliki kesulitan untuk meraih pasaran dunia. Banyak orang menekuni bisnis fashion dengan bahan kain lurik mencapai sukses.
Sebelum ada upaya modifikasi, kain lurik sering kali dicap kuno, tidak trendi, dan berwarna gelap. Kini, beragam gerai kerajinan, pengusaha mulai memberikan sentuhan inovasi yang berarti. Selayaknya kain lurik sebagai kekayaan budaya Indonesia tetap dicinta bangsa ini. Bahkan menjadi ‘sandang’ tuan di negeri sendiri dan menjadi inspirasi berkreasi bagi seniman dan usahawan karena memiliki nilai keindahan dan ekonomis. Pembuatan kain lurik yang mempertahankan ketradisionalannya seperti penggunaan alat tenun bukan mesin dan pewarnaan yang lebih cerah dengan motif beragam menjadikan lurik memiliki nilai budaya yang mempesona.
Refferensi:http://www.gerbanginterview.com/web/2011/03/kain-lurik-kekayaan-budaya-indonesia/

KAIN LURIK, KEKAYAAN BUDAYA INDONESIA Oleh: Nur Iswantara
Kain lurik merupakan salah satu kekayaan budaya kain tenun yang dimiliki Negara Indonesia. Kain lurik tradisional ini berkembang di Pulau Jawa khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Menurut sejarahnya kain lurik telah ada di Pulau Jawa sejak zaman Kerajaan Mataram, hal ini dibuktikan dengan ditemukannya beberapa prasasti yang menggambarkan hal tersebut.
Dari motif lorek jadilah kain lurik.
Mengapa kain tenun dengan motif garis tersebut dinamakan kain lurik? Awal mulanya dalam bahasa Jawa kuno lorek memiliki arti lajur atau garis, belang dan dapat juga diartikan sebagai corak. Maka tak heran lagi jika di Pulau Jawa kain tenun bermotif tersebut dikenal dengan nama kain lurik. Kain lurik sendiri memiliki tiga sebutan nama sesuai dengan motif yang berbeda, seperti sebutan lajuran untuk motif garis-garis yang searah dengan panjang sehelai kain. Ada lagi sebutan pakan malang untuk motif garis- garis yang searah lebar kain, serta ada pula sebutan cacahan untuk motif kecil-kecil.
Pada jaman dahulu, kain lurik ditenun menggunakan benang katun yang dipintal dengan tangan dan ditenun menjadi selembar kain dengan alat yang disebut Gedog, alat ini menghasilkan kain dengan lebar 60cm saja. Seiring dengan perkembangan jaman, kain lurik mulai diproduksi menggunakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) yang lebih modern dan dapat menghasilkan kain dengan lebar 150cm. Proses pemintalan kain katun sudah dilakukan secara modern, yaitu menggunakan mesin. Salah satu inti yang membuat sebuah kain disebut sebagai kain lurik adalah penggunaan benang katun, sehingga menghasilkan tekstur yang khas pada kain ini. Sehingga sebuah kain bermotif lurik yang dipintal dari benang polyester, tidak dapat disebut sebagai kain lurik, karena teksturnya yang berbeda dengan kain lurik yang terbuat dari katun.
Sejarah kain Lurik
Berbagai penemuan sejarah menunjukan bahwa kain tenun lurik telah ada di Pulau Jawa sejak dahulu kala. Ini terbukti pada Prasasti peninggalan kerajaan Mataram (851-882 M) yang menunjukkan adanya kain lurik pakan malang. Prasasti Raja Erlangga Jawa Timur tahun 1033 M menyebutkan bahwa kain tuluh watu adalah salah satu nama kain lurik. Dan juga pemakaian selendang pada arca terracotta asal Trowulan di Jawa Timur dari abad 15 M menunjukkan penggunaan kain lurik pada masa itu. Adanya tenun di pulau Jawa diperkuat dengan pemakaian tenun pada arca-arca dan relief candi yang tersebar di pulau Jawa.
Lurik sebagaimana kita ketahui adalah kain tenun tradisional Jawa khususnya Jogja dan Solo. Lurik merupakan peninggalan sejarah yang sangat kuno. Kain tradisional ini, dibuat dengan melewati beberapa tahapan yang rumit dan mebutuhkan ketelitian dan kesabaran dalam membuatnya.
Proses pembuatan kain lurik
Pertama, pencelupan warna.
Buat kain lurik tidak seperti membuat kain batik yang menggunakan cara “menggambar” pada selembar kain yang sudah jadi. Kain lurik dibuat dengan menenun benang menjadi selembar kain. dengan motif yang dirancang sejak dari pencelupan warna benang sesuai dengan yang diinginkan.
Kedua, Kelos dan palet ( memintal ).
Untuk memudahkan dalam menata benang, setelah dicelup, benang dijemur hingga kering. setelahnya, benang dipintal dalam gulungan-gulungan kecil yang disebut kelos atau palet.
Ketiga, Sekir (menata benang menjadi motif)
Proses ini adalah proses paling rumit, karena seorang penyekir harus menata benang-benang tipis sejumlah 2100 helai benang untuk menghasilkan satu motif tertentu kain lurik selebar 70 cm. tiap-tiap motif memiliki rumus yang berbeda. padahal motif kain lurik sendiri berjumlah puluhan. baik motif klasik maupun motif kontemporer.
Keempat, Nyucuk (memindahkan desain motif ke alat tenun)
Setelah motif dasar ditata di alat sekir, makan kemudian dipindahkan ke alat tenunan. kembali ke-2100 helai benang tadi ditata, dimasukkan satu persatu ke alat serupa sisir di alat tenun. Pada bagian ini, harus dilakukan oleh dua orang, yang satu memilah benang satu persatu dan menyerahkannya kepada partnernya, sedangkan partner satunya menerima dan memasangkan pada alat tenunnya.
Kelima, menenun
Setelah empat proses yang mendahuluinya, akhirnya benang-benang itu siap untuk ditenun. dan tentunya dengan menggunakan alat tenun manual atau yang dikenal dengan ATBM, Alat Tenun Bukan Mesin. Dan akhirnya, kain-kain lurik indah penuh maknapun siap digunakan.
Produsen, makna kain lurik
Daerah produsen kain lurik yang terkenal yaitu di kota Yogyakarta, Klaten, Solo, Jepara, dan Tuban. Untuk daerah Yogyakarta dan Solo, kain lurik dibuat dengan teknik amanan wareg yaitu anyaman datar atau polos. Walaupun sederhana, namun membutuhkan ketrampilan dan kejelian dalam memadukan warna dan menyusun garis atau kotak yang serasi dan seimbang. Pembuatan kain lurik kini telah mengalami kemajuan, dari mulai menggunakan atat tenun tradisional yang biasa disebut tenun gedog, kemudian ATBM ( alat tenun bukan mesin ), hingga kini telah maju menggunakan ATM ( alat tenun mesin ).
Pada awalnya, kain lurik hanya dibuat dalam dua warna saja, yaitu hitam dan putih dengan corak garis atau kotak, namun kini banyak terdapat kain lurik dengan beragam warna, seperti biru, merah, kuning, coklat dan hijau. Yang membedakan tiap motif adalah susunan warnanya, misalnya 3 warna merah, 4 warna biru dengan bahan dasar hitam. Masing-masing komposisi warna dan garis pada kain lurik memiliki makna tertentu. Seperti kain lurik gedog madu, yang digunakan pada upacara mitoni atau siraman; kemudian ada lagi kain lurik motif lasem yang digunakan untuk perlengkapan pengantin pada jaman dahulu.
perkembangan kain lurik
Kain lurik yang dulunya dari kalangan masyarakat biasa, kini telah mampu diakui dan dihargai oleh banyak pihak. Misalkan Keraton Kasultanan Yogyakarta menjadikan kain lurik sebagai busana prajurit keraton. Kelompok usaha bersama abdi dalem Keraton di Kota Gede pun menggalakkan usaha kecil pembuatan pakaian tradisional dari kain lurik. Mereka memanfaatkan motif kain lurik tradisional yang didominasi warna hitam, cokelat, dan putih. Menurut salah satu anggotanya, Budi Raharjo, setiap orang bisa menyelesaikan dua pakaian lurik per hari yang dijual Rp 120.000 per potong.
Saat ini kain lurik tidak hanya dijadikan sebagai busana prajurit keraton saja, tetapi telah banyak dijadikan sebagai bahan surjan, kemeja baik pria maupun wanita, kebaya wanita, pakaian anak-anak, serta selendang ataupun syal. Di Yogyakarta, kain lurik dimodifikasi menjadi beragam produk, seperti pakaian dan aksesori: gantungan kunci, dompet, tas, pakaian, hingga bed cover, semakin digemari masyarakat. Kekhasan corak kain lurik tradisional dan proses pembuatannya yang masih menggunakan tangan menyebabkan nilai jual produk turunan kain lurik tinggi. Tak hanya pasar dalam negeri, kain lurik pun mulai merambah pangsa luar negeri.
Penggunaan kain lurik tidak terbatas untuk pemakaian sehari-hari seperti pakaian dan kain gendong namun juga digunakan untuk perlengkapan interior. Yang menyenangkan dari kain lurik adalah, meskipun ketika masih baru teksturnya sangat kasar dan kaku, namun ketika telah digunakan beberapa lama, teksturnya berubah menjadi lebih lembut tapi tidak berkurang kekuatannya.
Seiring perkembangan dunia fashion di Indonesia, potensi keindahan kain lurik dapat ditampilkan dengan gaya modern tanpa menghilangkan kesan klasik, etnik dan tradisi yang terkandung dalam kain tersebut. Dengan memadukan kain lurik dengan bahan modern, kini banyak perancang busana yang telah sukses menghantarkan kain lurik menjadi busana yang nyaman digunakan oleh para selebritis, pejabat negara. Kini kain tradisional pun tidak memiliki kesulitan untuk meraih pasaran dunia. Banyak orang menekuni bisnis fashion dengan bahan kain lurik mencapai sukses.
Sebelum ada upaya modifikasi, kain lurik sering kali dicap kuno, tidak trendi, dan berwarna gelap. Kini, beragam gerai kerajinan, pengusaha mulai memberikan sentuhan inovasi yang berarti. Selayaknya kain lurik sebagai kekayaan budaya Indonesia tetap dicinta bangsa ini. Bahkan menjadi ‘sandang’ tuan di negeri sendiri dan menjadi inspirasi berkreasi bagi seniman dan usahawan karena memiliki nilai keindahan dan ekonomis. Pembuatan kain lurik yang mempertahankan ketradisionalannya seperti penggunaan alat tenun bukan mesin dan pewarnaan yang lebih cerah dengan motif beragam menjadikan lurik memiliki nilai budaya yang mempesona.
Referrensi:http://www.gerbanginterview.com/web/2011/03/kain-lurik-kekayaan-budaya-indonesia/

Budaya sebagai Alat Pemersatu Bangsa

seni pemersatu bangsa


Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Kebudayaan selalu merujuk pada sederetan sistem pengetahuan yang dimiliki bersama, perangai-perangai, kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai, peraturan-peraturan, dan simbol-simbol yang berkaitan dengan tujuan seluruh anggota masyarakat yang berinteraksi dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Dipandang dari wujudnya, menurut Koentjaraningrat, kebudayaan memiliki ide, bentuk dan perilaku. Sedangkan dikaji dari segi unsur, kebudayaan memiliki 7 unsur pokok yaitu sistem kepercayaan, bahasa, sistem ekonomi, sistem sosial, ilmu pengetahuan, teknologi dan sni. Secara sederhana bahwa kebudayaan adalah nilai-nilai dan gagasan vital yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Seni adalah ekspresi dari jiwa manusia yang diwujudkan dalam karya seni. Pernyataan ini mengisyaratkan terjadinya kreatifitas dalam hal olah imajinasi dan olah rupa, gerak, suara, cahaya, bau dan sebagainya. Penciptaan seni terjadi oleh adanya proses cipta, karsa dan rasa. Penciptaan di bidang seni mengandung pengertiaan yang terpandu antara kreatifitas, penemuan dan inovasi yang sangat dipengaruhi oleh rasa. Namun demikian, logika dan daya nalar mengimbangi rasa dari waktu ke waktu dalam kadar yang cukup tinggi. Rasa muncul karena dorongan kehendak naluri yang disebut karsa. Karsa dapat bersifat individu atau kolektif, tergantung dari lingkungan serta budaya masyarakat.
WAWASAN KEBANGSAAN
Setiap orang tentu memiliki rasa kebangsaan dan memiliki wawasan kebangsaan dalam perasaan atau pikiran, paling tidak di dalam hati nuraninya. Dalam realitas, rasa kebangsaan itu seperti sesuatu yang dapat dirasakan tetapi sulit dipahami. Namun ada getaran atau resonansi dan pikiran ketika rasa kebangsaan tersentuh. Rasa kebangsaan bisa timbul dan terpendam secara berbeda dari orang per orang dengan naluri kejuangannya masing-masing, tetapi bisa juga timbul dalam kelompok yang berpotensi dasyat luar biasa kekuatannya.
Rasa kebangsaan adalah kesadaran berbangsa, yakni rasa yang lahir secara alamiah karena adanya kebersamaan sosial yang tumbuh dari kebudayaan, sejarah, dan aspirasi perjuangan masa lampau, serta kebersamaan dalam menghadapi tantangan sejarah masa kini. Dinamisasi rasa kebangsaan ini dalam mencapai cita-cita bangsa berkembang menjadi wawasan kebangsaan, yakni pikiran-pikiran yang bersifat nasioanal dimana suatu bangsa memiliki cita-cita kehidupan dan tujuan nasional yang jelas. Berdasarkan rasa dan paham kebangsaan itu, timbul semangat kebangsaan atau semangat patriotisme.
Wawasan kebangsaan mengandung pula tuntutan suatu bangsa untuk mewujudkan jati diri, serta mengembangkan perilaku sebagai bangsa yang meyakini nilai-nilai budayanya, yang lahir dan tumbuh sebagai penjelmaan kepribadiaanya.
Seni dan budaya sebagai media pemersatu bangsa
Globalisasi telah menjadi kenyataan yang tak terelakan. Dalam konteks percaturan budaya global, kesadaran untuk mempertanyakan isentitas justru semakin besar. Inilah hal yang mengiringi wacana tentang identitas (budaya) dalam globalisasi ini.
Dalam arus besar ini, kesenian lokal yang sekaligus sebagai corong penanaman nilai-nilai atau konsepsi-konsepsi sebagai satu unsur dalam kebudayaan lokal akan semakin tersisihkan. Apalagi yang terjadi pada generasi muda, kebudayaan barat akan semakin menindih kebudayaan lokal kita dalam diri mereka.
Maka tidak heran jika sosok yang kita hadapi sehari-hari dilingkungan kita adlaha sosok yang tidak teridentifikasi sebagai anak bangsa ini (gaya bicara, kosa kata: semisal, “bajingan” dalam satu syair lagu populer, sopan santun, keramah tamahan, pola pikir, cara berpakaian dan lain sebagainya).
Hal yang harus dilakukan dalam menghadapi ini adalah menumbuhkan kesadaran, bahwa kekuatan lokal dapat sangat efektif untuk bekal memasuki global village (desa global) maupun global culture (budaya global). Kenyataan semacam itu hanya mungkin jika tumbuh kesadaran untuk terus menerus membangun dialog, baik dalam skala personal maupun komunal, antara yang lokal dan yang global, antara yang traadisi dengan yang modern, dengan tendensi untuk saling melengkapi, dan saling memperkaya.
Nah, seni dalam jenis dan sifatnya adalah tidak dapat dipisahkan dari lingkungan hidup. Seni berkaitan dengan konsepsi ruang, waktu dan keadaan. Maka seni selalu memunculkan nilai-nilai atau konsepsi-konsepsi yang ada dalam lingkungan di mana ia berada. Di seluruh Indonesia terdapat ratusan nilai atau konsepsi semacam ini. Di Jawa ada beberapa jenis nilai seperti tersebut diatas yang sering diangkat sebagai tema karya seni. Di antara nilai-nilai itu termasuk prinsip rukun, prinsip hormat, prinsip mamayu hayuning bawana, mamayu hayuning bangsa, adigang adiguna sikap yang sombong, aja dumeh (jangan sok), ngono yo ngono (begitu ya begitu tetapi jangan begitu) dan lain sebagainya.
Nilai-nilai atau konsepsi-konsepsi yang terhadirkan dalam setiap tampilan kesenian, akan memasuki relung-relung hati setiap manusia yang terlibat dalam peristiwa seni ini (baik itu pelaku maupun penontonnya). Melihat hal semacam inilah maka sudah sangat jelas bahwa kesenian merupakan satu media yang signifikan untuk meningkatkan wawasan kebangsaan.
Kemampuan dan kesadaran semacam itu hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki kapasitas knowledgeable artist, seorang seniman yang memiliki kemampuan dan pengetahuan luas. Seorang seniman yang terus memelihara daya kreasi dan semangat inovasi, serta membuka diri terhadap berbagai kemungkinan. Siapapun yang ingin memberikan kontribusi yang berarti bagi kesenian, bagi kehidupan, dan bagi kemanusiaan secara luas, tak ada pilihan lain kecuali menumbuhkan kesadaran bahwa pergaulan global adalah sebuah keniscayaan. Kemudian setelah itu harus memiliki komitmen dan integritas yang dapat dipertanggung jawabkan

Refferensi:http://taritahasman.blogspot.com/2011/02/budaya-sebagai-alat-pemersatu-bangsa.html